Minggu, 24 Mei 2009

PART ONE

IMPLIKASI TEORI KEPRIBADIAN DAN ETIKA DALAM PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN GURU

A. Profil Kepribadian Guru Ideal

Sikap ideal yang dimaksud dapat mengacu kepada prilaku nabi Muhammada Saw. Karena beliau satu-satunya pendidik yang berhasil. Dalam al-Quran surah al-Ahzab ayat 21 dinyatakan bahwa pada pribadi nabi Muhammad Saw. Terdapat teladan yang dapat dipraktekan oleh umat manusia. Untuk itu, asumsi keberhasilan pendidik perlu meneladani beberapa hal yang dianggap esensial, yang diharapkan dapat mendekatkan realitas perilaku pendidik dan idealitas (Perilaku nabi Muhammad Saw sebagai pendidik).

Syeh Mahmud unnasir (1993: 104) menytakan bahwa keberhasilan nabi Muhammad Saw sebagai pendidik didahului dengan adanya personality ‘kepribadian’ yang berkualitas unggul. Sejak anak-anak (sebelum diangkat menjadi rasul), beliau dikenal sebagai seorang yang berbudi luhur, berkepribadian unggul sehingga beliau dijuluki al-amin ‘orang yang sangat jujur, dapat dipercaya’, dan sngat dicintai oleh semua orang.

Nabi Muhammad juga dikenal sebagai orang yang sangat peduli terhadap masalah social. Beliau memiliki semangat dan ketajaman dalam membaca, menelaah, dan meneliti berbagai fenomena alam dan sosial, mampu berjuang menegakan kebenaran .

Adapun fropil guru menurut SPTK-21 adalah sebagai berikut:

1. Memiliki kepribadian

a. Beriman dan bertaqwa kepada tuhan YME

b. Berakhlak yang tinggi

c. Memiliki rasa kebangsaan yang tinggi

d. Jujur dalam berkata dan bertindak

e. Sabar dan arif dalam menjalankan profesi

f. Disiplin dan bekerja keras

g. Cinta terhadap profesi

h. Inivatif, kreatif dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi

i. Gemar membaca dan selalu ingin maju

j. Demokratis

k. Bekerjasama secara professional dengan peserta didik, teman sejawat dan masyarakat

l. Terbuka terhadap saran dan kritik

m. Cinta damai

n. Memiliki wawasan internasional

2. Memiliki pengetahuan dan pemahaman profesi kependidikan tentang:

a. Peserta didik

b. Teori belajar dan pembelajaran

c. Kurikulum dan perencanaan pengajaran

d. Budaya dan masyarakat sekitar sekolah

e. Filsafat dan teori pendidikan

f. Evaluasi

g. Tekhnik dsar dalam mengembangkan proses pembelajaran

h. Teknologi dn pemanfaatannya dalam pendidikan

i. Moral, etika dan kaidah profesi

3. Memiliki Pengetahuan dan pemahaman tentang Bidang spesialisasi yang meliputi:

a. Cara berfikir disiplin ilmu yang menjadi spesialisasinya

b. Teori, konsep, dan prosedur, utama dalam disiplin ilmu spesialisasinya

c. Cara mengembangkan disiplin ilmu yang menjadi spesialisasinya

d. Cara mengembangkan materi dan bahan ajar

e. Penelitian dalam disiplin ilmu

4. memiliki kemampuan dan keterampilan profesi dalam:

a. mengembangkan dan merencanakan pembelajaran

b. menggunakan berbagai metode dan teknik mengajar

c. menerapkan berbagai teori dan prinsip pendidikan dalam proses pembelajaran

d. menggunakan bahasa yang dipahami peserta didik

e. mengelola kelas dan menciptakan suasana belajar yang kondusif

f. memotivasi dan mengaktifkan siswa untuk belajar

g. mengembangkan, menggunakan media, alat bantu dan sumber belajar

h. menilai kemajuan belajar peserta didik

i. membantu kesulitan belajar peserta didik baik secara kelompok maupun secara perorangan

j. memanfaatkan lingkungan sosial budaya peserta didik untuk meningkatkan pembelajaran

k. Mengembangkan materi dan bahan ajar

l. Berkomunikasi dengan teman sejawat dan masyarakat secara professional

m. Menggunakan teknologi untuk mencari informasi dan mengembangkan pembelajaran

n. Melaksanakan administrasi sekolah

o. Menerapkan etika dan kaidah-kaidah profesi (SPTK-21, Diknas, 2002)

B. Kepribadian Guru di Sekolah dan Madrasah

Pembelajaran di sekolah dan madrash dapat ditingkatkan mutunya oleh adanya guru yang memiliki kepribadian unggul sebagai pendidik. Acuan pribadi tersebut tentu tepat bila dikompirmasikan dengan pribadi Rasulullah yang memiliki sejumlah sifat unggul yakni: Syidik, amanah, tabligh, serta fathanah.

Pribadi guru yang diharapkan oleh siswa-siswa disekolah adalah pribadi yang menarik secara fisik, gagah, berani, berwibawa, dan secara intelektual memiliki kecerdasan tinggi tidak mudah lupa, mampu menganalisis persoalan kehidupan manusia secara integrative, serta mamapu mencari jalan keluar atas problema yang dihadapi peserta didik. Dapat dinyatakan bahwa pribadi yang diharapkan yaitu pribadi guru yang memiliki keseimbangan antara aqal, jasmani dan rohani. Aqal cerdas jasmani kuat, dan rohaninya memilki kecerdasan emosional dan spiritual.

C. Kontribusi teori Kepribadian dan etika dalam Pengembangan Kepribadian Guru

Secara singkat dapat dijelaskan bahwa kepribadian seseorang dipengaruhi oleh berbagai factor, diantaranya oleh pemahaman mengenai perilaku yang harus diaktualisasikan, selanjutnya pemahaman tersebut diyakini dan diimplementasikan dalam aktivitas sehari-hari. Melalui pemahaman terhadap teori-teori kepribadian dan etika, pribadi seseorang gurfu dapat dikembangkan kearah yang lebih positif. Sebagai pendidik, pribadi guru diwarnai oleh adanya pemahaman terhadap teori kepribadian yang dianggap tepat dilakukan oleh seorang guru.

Melalui pemahaman terhadap teori kepribadian dan etika yang dikemukakan oleh pemikir Barat (sekuler), Seorang guru juga dapat melakukan komparasi dengan pemikir Muslim yang menyajikan pemahaman pribadi guru yang sarat nilai Denagn demikian dapat dikatakan bahwa teori kepribadian dan etika memilki kontribusi positif dalam pengembangan kepribadian guru.

PART TWO

PRIBADI YANG SEHAT DAN PRIBADI YANG TIDAK SEHAT

Hingga saat ini, para ahli tampaknya masih sangat beragam dalam memberikan rumusan tentang kepribadian. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Allport (Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. Berangkat dari studi yang dilakukannya, akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Scheneider (1964) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri, ketegangan emosional, frustrasi dan konflik, serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan.

Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya, misalnya konstitusi dan kondisi fisik, tampang, hormon, segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh, sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu, terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal, diantaranya : teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud, teori Analitik dari Carl Gustav Jung, teori Sosial Psikologis dari Adler, Fromm, Horney dan Sullivan, teori Personologi dari Murray, teori Medan dari Kurt Lewin, teori Psikologi Individual dari Allport, teori Stimulus-Respons dari Throndike, Hull, Watson, teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. Sementara itu, Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian, yang di dalamnya mencakup :

  1. Karakter; yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.
  2. Temperamen; yaitu disposisi reaktif seorang, atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan.
  3. Sikap; sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif atau ambivalen
  4. Stabilitas emosi; yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Seperti mudah tidaknya tersinggung, marah, sedih, atau putus asa
  5. Responsibilitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Seperti mau menerima resiko secara wajar, cuci tangan, atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi.
  6. Sosiabilitas; yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Seperti : sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.

Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian tersendiri, mulai dari yang menunjukkan kepribadian yang sehat atau justru yang tidak sehat. Dalam hal ini, Elizabeth (Syamsu Yusuf, 2003) mengemukakan ciri-ciri kepribadian yang sehat dan tidak sehat, sebagai berikut :

A. Kepribadian yang sehat :

  1. Mampu menilai diri sendiri secara realisitik; mampu menilai diri apa adanya tentang kelebihan dan kekurangannya, secara fisik, pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.
  2. Mampu menilai situasi secara realistik; dapat menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang dialaminya secara realistik dan mau menerima secara wajar, tidak mengharapkan kondisi kehidupan itu sebagai sesuatu yang sempurna.
  3. Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik; dapat menilai keberhasilan yang diperolehnya dan meraksinya secara rasional, tidak menjadi sombong, angkuh atau mengalami superiority complex, apabila memperoleh prestasi yang tinggi atau kesuksesan hidup. Jika mengalami kegagalan, dia tidak mereaksinya dengan frustrasi, tetapi dengan sikap optimistik.
  4. Menerima tanggung jawab; dia mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.
  5. Kemandirian; memiliki sifat mandiri dalam cara berfikir, dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di lingkungannya.
  6. Dapat mengontrol emosi; merasa nyaman dengan emosinya, dapat menghadapi situasi frustrasi, depresi, atau stress secara positif atau konstruktif , tidak destruktif (merusak)
  7. Berorientasi tujuan; dapat merumuskan tujuan-tujuan dalam setiap aktivitas dan kehidupannya berdasarkan pertimbangan secara matang (rasional), tidak atas dasar paksaan dari luar, dan berupaya mencapai tujuan dengan cara mengembangkan kepribadian (wawasan), pengetahuan dan keterampilan.
  8. Berorientasi keluar (ekstrovert); bersifat respek, empati terhadap orang lain, memiliki kepedulian terhadap situasi atau masalah-masalah lingkungannya dan bersifat fleksibel dalam berfikir, menghargai dan menilai orang lain seperti dirinya, merasa nyaman dan terbuka terhadap orang lain, tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan untuk menjadi korban orang lain dan mengorbankan orang lain, karena kekecewaan dirinya.
  9. Penerimaan sosial; mau berpartsipasi aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki sikap bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.
  10. Memiliki filsafat hidup; mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat hidup yang berakar dari keyakinan agama yang dianutnya.
  11. Berbahagia; situasi kehidupannya diwarnai kebahagiaan, yang didukung oleh faktor-faktor achievement (prestasi) acceptance (penerimaan), dan affection (kasih sayang)

B. Kepribadian yang tidak sehat:

  1. Mudah marah (tersinggung)
  2. Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan
  3. Sering merasa tertekan (stress atau depresi)
  4. Bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain yang usianya lebih muda atau terhadap binatang
  5. Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang meskipun sudah diperingati atau dihukum
  6. Kebiasaan berbohong
  7. Hiperaktif
  8. Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas
  9. Senang mengkritik/ mencemooh orang lain
  10. Sulit tidur
  11. Kurang memiliki rasa tanggung jawab
  12. Sering mengalami pusing kepala (meskipun penyebabnya bukan faktor yang bersifat organis)
  13. Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama
  14. Pesimis dalam menghadapi kehidupan
  15. Kurang bergairah (bermuram durja) dalam menjalani kehidupan

Source:

http://fitria95.wordpress.com/2009/01/08/ciri-ciri-kepribadian-yang-sehat-dan-tidak-sehat/

Sedangkan menurut Gordon W. Allport (1897-1967) (nilam Widyanti, http//www.kompas.com/read/xml/2008/01/10/200894435), terdapat tujuh criteria tentang sifat-sifat khusus kepribadian yang sehat, yaitu:

1. Perluasan Perasaan Diri

2. Relasi Sosial yang Hangat

3. Keamanan Emosional

4. Persepsi realitas

5. Keterampilan dan Tugas

6. Pemahaman diri

7. Filsafat Hidup

PART THREE

GURU DALAM WACANA INTEGRITAS PRIBADI DAN SOSIAL

Tiga tahun sudah UU RI No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen disahkan dimana guru diwajibkan memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam yuridiksi tersebut meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional yang diukur dan atau diperoleh melaui tiga jalur yaitu portifolio, diklat profesi guru (PLPG) dan pendidikan profesi guru (PSG) dimana ketiganya bermuara pada pemerolehan sertifikat guru professional. Beberapa angkatan telah usai melaksanakan ritual yang baru dirilis pemerintah ini.

Pertanyaan yang muncul adalah, “benarkah produk ketiga jalur tersebut telah menghasilkan guru yang memiliki integritas profesi yang tinggi baik secara pedagogik, kepribadian, sosial maupun professional?”

Barangkali, produk dua jalur yaitu portifolio dan diklat profesi guru paling tidak telah sedikit bisa menjawab pertanyaan tersebut di atas. Sedangkan satu jalur terakhir yaitu, pendidikan profesi guru, yang sekarang sedang di gelar oleh puluhan LPTK yang tersebar di seluruh tanah air harus menunggu sampai akhir tahun 2008, karena memakan waktu satu tahun penuh. Untuk bahan wacana dalam tulisan ini akan dikonsentrasikan pada dua kompetensi yang sering terabaikan yaitu kompetensi kepribadian dan sosial.

Secara etik, profesi guru merupakan profesi yang sarat nilai karena terkait dengan pembentukan karakter peserta didik seperti yang ingin diwujudkan dalam tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu guru dituntut untuk memiliki kompetensi kepribadian dan sosial yang memadai atau dengan kata lain memiliki nilai lebih dibandingkan dengan profesi lainnya.

Kompetensi kepribadian terkait erat dengan penampilan sosok pribadi seorang guru sebagai individu yang diharapkan mampu menjadi sosok yang mempunyai kedisiplinan, berpenampilan baik, bertanggung jawab, memiliki komitmen dan bersemangat sehingga dapat menjadi sosok yang dapat diteladani.

Kompetensi sosial terkait dengan kemampuan guru sebagai makhluk sosial dalam berhubungan dengan orang lain, yang diharapkan mampu bekerjasama, mempunyai kesantunan berperilaku, mampu berkomunikasi dan mempunyai empati terhadap orang lain.

Kedua macam kompetensi guru tersebut diatas harus dikembangkan secara utuh dan terintegrasi dalam keseharian kinerja guru baik sebagai perangkat Negara, pelayan publik maupun anggota masyarakat. Menurut UUGD, ada 14 karakteristik tentang kompetensi social dan kepribadian guru dengan rincian karakteristik sebagaimana disajikan dari materi kuliah Teori Kepribadian dan Etika, Prof. Dr. Mariyono, Dip. RSL pada pendidikan profesi guru di Universitas Jember tahun 2008, adalah sebagai berikut:

1. Akhlak Mulia

2. Arif dan bijaksana

3. Mantap

4. Wibawa

5. Stabil

6. Jujur

7. Teladan

8. Obyektif

9. Pengembangan diri

10. Terampil dalam komunikasi

11. Faham IT

12. Gaul

13. Santun

14. Kooperatif

Sedangkan menurut versi PLPG, Kompetensi Kepribadian dan Sosial dapat diringkas dalam 10 butir kompetensi yang meliputi:

1. Kesantunan berperilaku

2. Tanggung jawab

3. Keteladanan

4. Empati

5. Kemampuan bekerjasama

6. Komitmen

7. Semangat

8. Kedisiplinan

9. Kemampuan berkomunikasi

10. Penampilan

Dalam dimensi kekinian (present), ia merupakan suatu sosok manusia sekarang yang berakhlak mulia, arif bijaksana, berkepribadian stabil, mantap, disiplin, berperilaku santun, jujur, obyektif, bertanggungjawab, menarik, empatik, berwibawa dan patut diteladani. Ia juga merupakan sosok manusia masa depan yang dinamis dan berfikir ke depan(futuristic) dengan tanda-tanda dimilikinya sifat-sifat informatif, modern, komunikatif, bersemangat dan berkomitmen untuk pengembangan diri maupun bersama-sama.

A. Guru Sebagai Sosok Manusia Masa Kini

Dikatakan sebagai manusia sekarang (masa kini) karena ia memiliki beberapa indicator antara lain:

1. Berakhlak mulia, arif bijaksana dan berperilaku santun

Sebagai hamba Allah, guru memiliki cerminan ketaatan kepada aturan agama yang dianutnya. Ia adalah sosok religious yang senantiasa menjalankan syariat-syariat sebagaimana ajaran agamanya. Sedangkan sebagai makhluk sosial, seorang guru selaku individu sejak lahir hingga sepanjang hayatnya senantiasa berhubungan dengan individu lainnya atau dengan kata lain melakukan relasi interpersonal. Dalam relasi interpersonal itu ditandai dengan berbagai aktivitas tertentu, baik aktivitas yang dihasilkan berdasarkan naluriah semata atau melalui proses pembelajaran. Berbagai aktivitas individu dalam relasi interpersonal ini bisaa disebut perilaku sosial.

Dalam pergaulan sosial, guru sering dianggap sebagai sosok yang memiliki kepribadian ideal. Ia adalah symbol dari kearifan dan memiliki keluhuran budi pekerti, ia sosok yang bias menempatkan berbagai permasalahan sesuai dengan porsinya, ia adalah mascot kebijaksanaan yang ada di masyarakat. Maka, perilaku guru sering dianggap sebagai model atau panutan (yang harus digugu dan ditiru). Sebagai seorang model guru harus memiliki kompetensi yang berhubungan dengan pengembangan kepribadian (personal competencies), di antaranya: kemampuan yang berhubungan dengan pengalaman ajaran agama sesuai dengan keyakinan agama yang dianutnya; kemampuan untuk menghormati dan menghargai antarumat beragama; kemampuan berperilaku sesuai dengan norma, aturan, dan sistem nilai yang berlaku di masyarakat; mengembangkan sifat-sifat terpuji sebagai seorang guru misalnya sopan santun & tata karma; bersikap demokratis serta terbuka terhadap pembaruan dan kritik.

Dalam persinggungannya, kesantunan perilaku ini sangat terkait erat dengan versi yuridis yang mengamanatkan internalisasi kompetensi akhlak mulia, arif dan bijaksana, mantap, penuh kewibawaan, keteladanan namun tetap gaul, santun dan kooperatif, ini dapat dilihat dari indicator-indikator yang muncul. Beberapa diantaranya adalah bahasa tubuh dan lisan yang santun, tindak tanduk dan perilaku sosial, budaya, organisasi dan bekerja yang relevan dan proporsional.

Indicator-indikator di atas terpantau dalam adab dalam hubungan antara individu, dalam kelompok, di masyarakat, organisasi dan dalam bekerja baik dalam kelas maupun lingkungan sekolah.

Sedangkan pantauan terhadap perilaku sosial dapat terlihat dari kecenderungan peranan guru dalam masyarakat, kecenderungan sosiometrik yang berkaitan dengan respon yang diperoleh dari lingkungannya atas kesukaan dan kepercayaan terhadap orang lain serta ekspressi yang berkaitan dengan ekpresi diri dengan menampilkan kebisaaaan-kebisaaannya.

2. Berkepribadian stabil, mantap, disiplin

Guru adalah kader penegak disiplin meskipun demikian ia bukan sosok yang kaku dan konservatif. Guru yang disiplin bukan berarti ia tidak memiliki keluwesan. Ia hanya dengan penuh kesadaran dan tulus ikhlas memiliki kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku, ketentuan yang ada, kesepakatan bersama dan prosedur dan instruksi kerja justru merupakan bentuk penghargaannya kepada orang lain. Karena guru ideal akan berkepribadian stabil maka ia bisa dipercaya penuh, kepercayaan yang diberikan akan menjadi api bagi guru sehingga berfungsi untuk menyalakan semangat. Ia memiliki pribadi yang mantap untuk maju memimpin bangsa dan negaranya. Memimpin bukan hanya siswanya tapi juga keluarga dan masyarakatnya. Guru professional berusaha untuk selalu menyamakan pemahaman visi, misi, tujuan dan target. Ia bisa menjadi penggerak disiplin keseluruhan komponen sekolah. Ia mempunyai pengaturan waktu yang tepat, efesien dan tidak membebani.

Guru yang dikehendaki adalah yang memiliki kedisiplinan yang konsisten, tidak tergantung pengawasan, namun demi untuk berprestasi dan mutu. Baginya disiplin adalah budaya hidup. Ia pun mampu berbuat disiplin dalam kelompok.

Dalam hubungannya dengan kajian UUGD, kedisiplinan guru tidaklah seperti kedisiplinan militer, tapi disiplin yang disertai kearifan dan kebijaksanaan, namun tidak berarti lemah. Kedisiplinan guru tetap dibarengi dengan kemantapan, keteladanan dan obyektifitas serta kooperatif.

3. Jujur, obyektif dan bertanggungjawab

Integritas seorang guru professional memiliki indikasi obyektifitas, kejujuran dan tanggung jawab terhadap profesinya, tugas dan pekerjaannya, ucapan dan tindakannya serta tanggung jawab sosial. Guru harus mampu mengatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Ia mengedepankan kebenaran diatas bias-bias kepentiangan pribadi yang semu. Sebagai guru ia harus bersikap professional, mementingkan tugas, selaras antara ucapan dan tindakannya, terbuka, terpercaya, akuntabel, peduli dan inisiatif.

Dalam persinggungannya kompetensi tanggung jawab ini terkait erat dengan kompetensi akhlak mulia, kearifan dan bijaksana, mantap, kewibawaan, stabilitas kepribadian, kejujuran untuk mengatakan kebenaran atau menyesuaikan kata-kata dengan realitas, keteladanan serta obyektifitas.

4. Berwibawa dan patut diteladani

Ing ngarso sung tulodho berlaku pada semua sisi kehidupan seorang guru profesiaonal. Ia memiliki kewibawaan yang bukan berarti kekuasaan. Ia memiliki pancaran kepribadian yang mampu mempengaruhi lingkungannya secara positif. Ia mampu menjadi teladan bagi siswanya, lingkungannya serta bagi masyarakat. Ia dapat dikatakan memiliki jam kerja selama 24 jam. Guru pasti memiliki kewajiban moral, tuntutan nurani dan memang didambakan oleh masyarakatnya untuk berperan aktif dalam kegiatan sosial, budaya dan ekonomi di daerahnya. Ia dituntut pula untuk dapat berperan sebagai penyokong utama keberhasilan memajukan pendidikan dalam keluarga dan masyarakat di sekitarnya.

Titik permutasi yang penulis temukan dari kompetensi ini adalah dalam hubungannya dengan kompetensi akhlak mulia, arif dan bijaksana, mantap, wibawa, teladan, pengembangan diri, gaul, santun dan kooperatif.

5. Empatik

Guru sejati adalah orang yang mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain. Ia adalah sosok yang memiliki tenggang rasa, partisipatif dan toleran. Guru mutlak harus memiliki kompetensi empati. Empati adalah kemampuan menyelami perasaan orang lain tanpa harus tenggelam. Empati adalah kemampuan dalam mendengarkan perasaan orang lain tanpa harus larut. Empati adalah kemampuan dalam melakukan respon atas keinginan orang lain yang tak terucap. Orang lain disini terutama adalah peserta didik dalam peran guru sebagai pendidik, masyarakat dalam perspektif guru sebagai makhluk sosial dan keluarga dalam peran guru sebagai individu dewasa.

Empati sepadan dengan terlibatnya hati dan pikiran dengan masalah yang dihadapi orang lain. Secara umum empati terbagi atas empati kognitif dan empati emosional. Empati kognitif adalah keterlibatan dalam mengambil perspektif (cara pandang) orang lain. Sedangkan empati emosional adalah respon emosional, apakah dikarenakan kesamaan perasaan (empati paralel) atau karena reaksi terhadap pengalaman emosional orang lain (empati reaktif).

Riset menunjukkan bahwa empati menjadi sumber berbagai sikap dan tingkah laku mulia. Sebaliknya lemahnya empati menyebabkan berbagai efek buruk pada sikap dan tingkah laku. Empati adalah awal sikap untuk membantu. Keberadaaan empati diasosiasikan dengan perbuatan pro-sosial, sebaliknya ketiadaan empati menampak pada perbuatan anti-sosial.

Dalam persinggungan antara cara pandang kompetensi guru menurut UUGD dengan PLPG, guru harus mampu memahami perasaan orang lain, membantunya, menghargai dan menyenangkan dengan tulus ikhlas dalam kebajikan. Guru harus memiliki kompetensi akhlak mulia, arif dan bijaksana, stabil, terampil dalam komunikasi, gaul, santun dan kooperatif.

6. Menarik

“Guruku Trendi Sekali”, ujar seorang siswa dalam perbincangan dengan teman-temannya. Ada kebanggaan tersirat dari diri siswa atas penampilan gurunya yang menarik. Ini merupakan salah satu factor penting yang selama ini agak terabaikan dalam system pendidikan nasional, karena dianggap tidak penting. Anggapan itu sudah dipatahkan dengan fenomena diatas yang diperkuat dengan kedua kajian yang menjadi pokok bahasan tulisan ini. Menurut konsultan penampilan dari Amerika Mary Spillane, yang seharusnya terjadi adalah para pengajar di abad 21 mulai bebenah diri dan menjadi lebih trendi dalam penampilan. Menurutnya penampilan guru yang rapi, apalagi trendi akan meningkatkan wibawa guru dimata muridnya. Di Inggris bahkan para konsultan penampilan sengaja dibayar untuk memebenahi penampilan para guru yang salah satunya adalah memberi saran agar para guru pria di Inggris meninggalkan salah satu ciri khas mereka yaitu brewok dan kacamata tebal berbingkai lebar.

Para guru juga sudah semestinya mulai mempelajari dan memahami arti bagaimana memulai dan menjaga kontak mata dengan para siswa mereka, cara berjabat tangan, tampilan suara didepan para muridnya. Para guru di abad 21, mesti mewakili citra percaya diri, trendi dan menampilkan gaya pria dan wanita dari masa depan. Bukan penampilan seseorang yang terjebak dalam lingkaran waktu.

Meskipun demikian konsep kerapian, kewajaran, kepantasan, kesopanan, kesederhanaan, kesesuaian, keserasian, kebersihan, keluwesan harus tetap dijaga agar citra penampilan guru tetap good looking. Ia mesti harus menyesuaikan busana, make up, asesoris yang tepat dan berbudaya, disesuaikan dengan lingkungan, suasana, tempat, kelompok, audiens, waktu, cuaca dan tujuan.

Keterkaitan erat antara dua kategorisasi pembahasan terletak pada keteladanan, keterampilan dalam komunikasi baik verbal maupun non verbal, gaul dan tetap menjaga sopan santun.

B. Guru Sebagai Agen Pembaharuan

Selain dituntut untuk menjadi figure masa kini, guru juga diharapkan menjadi manusia visioner yang berwawasan masa depan. Guru adalah sosok pembaharu di semua lini kehidupan baik di lingkungan pendidikan maupun dalam masyarakat. Ia sosok futuristic yang memiliki beberapa indicator antara lain:

1. Berkomitmen

Guru memiliki komitmen dalam profesi dan tugas. Ia mampu menjaga etika guru, mengutamakan tugas pokok sebagai guru serta upaya menambah ilmu pengetahuan, membangun integritas, berusaha lebih baik dan mengatasi tantangan dalam bertugas

Guru senang mempelajari hal-hal baru. Guru tetaplah guru, namun dengan kegemarannya mencari hal-hal baru serta langsung menerapkannya, maka dunia pendidikan dan keguruannya semakin terbuka luas baginya. Dunia pendidikan ibarat sebagai tempat bermain yang laus dan tidak terbatas. Jadi senang belajar dan mencari hal baru adalah sebuah komitmen untuk kesuksesan.

Guru professional tidak menunjukkan kekhawatiran dan selalu berpikir positif. Berpikir positif adalah environment atau default state di mana keseluruhan eksistensi keguruannya berada. Jika guru menggunakan pikiran negatif sebagai default state, maka semua perbuatan guru akan berdasarkan pada kekhawatiran atau kecemasan dan hasilnya adalah kegagalan. Pikiran positif, maka perbuatan guru akan didasarkan oleh getaran positif, sehingga hal positif akan semakin besar kemungkinannya.

Dari tinjauan UUGD, guru yang berkomitmen tinggi akan memiliki sikap arif dan bijaksana, jiwanya stabil, ia memiliki kejujuran profesi, cara pandangnya obyektif dan bervisi untuk mengembangkan diri, ia juga santun dalam perilaku, baginya cita-cita selalu ada karena cita-cita itu selalu berkembang seiring tantangan jaman. Cita-cita guru professional tak akan pernah tercapai karena cita-citanya selalu berjalan dan berkembang seiring dengan perubahan.

2. Bersemangat

Semangat dalam bekerja untuk mencapai tujuan. Guru harus memliki semangat dalam memecahkan persoalan dan membangun lingkungannya. Ia selalu memiliki inisiatif, gigih, tidak putus asa, tidak menyerah dan tidak apatis. Ia optimis dan selalu berusaha menyelesaikan persoalan. Tut wuri handayani, ing madyo mangun karso, ing ngarso sung tulodo baginya bukan slogan kosong belaka.

Ia memiliki keberanian untuk berinisiatif, suatu kekuatan yang sebenarnya tidak lagi menjadi rahasia atas kesuksesan orang-orang terkenal yaitu mereka selalu punya ide-ide cemerlang. Guru yang penuh inisiatif adalah guru yang jenius dan berani berinisiatif. Pada hakikatnya inisiatif adalah kekayaan semua orang, tinggal orang itu mau atau tidak untuk berinisiatif mengemukakan ide-idenya.

Guru professional jarang mengeluh, profesionalisme adalah yang paling utama. Hatinya berkata, “There are two kinds of days: good days and great days.” Hanya ada dua macam hari: hari yang baik dan hari yang sangat baik. Adalah baik jika kita tidak pernah mengeluh, walaupun suatu hari mungkin kita akan jatuh dan gagal. Mengapa? Karena setiap kali gagal, itu adalah kesempatan bagi diri seorang guru untuk belajar mengatasi kegagalan itu sendiri sehingga tidak terulang lagi di kemudian hari. Hari di mana ia gagal tetap saja sebagai a good day (hari yang baik).

Guru yang bisa bersemangat adalah guru yang jujur, patut diteladani, ia obyektif, mampu mengembangkan diri dan kooperatif. (unsur permutasi).

3. Pengembangan diri dan bersama-sama

Kemampuan Kerjasama dalam kelompok tertentu baik dalam pekerjaan maupun kemasyarakatan bagi guru adalah suatu syarat yang tidak bisa dihindari disamping kompetensi kepemimpinan yang baik, termasuk mendengar dan menghargai karya dan pendapat orang lain, suka membantu, tidak egois dan demokratis.

Guru professional mampu bekerjasama secara vertikal baik dengan atasan maupun bawahan serta peserta didik dan bekerjasama horizontal dengan sejawat dan masyarakat. Guru senang bekerja sama dan membina hubungan baik. Kemampuan bekerja sama dalam tim adalah salah satu kunci keberhasilan utama. Sekolah harus memiliki sebuah tim yang loyal dan bervisi sama seperti menciptakan jaringan kerja yang baik, sehingga jalan menuju sukses semakin terbuka lebar.

Dalam nilai kerjasama ini ada terdapat benang merah hubungannya dengan akhlak mulia, kearifan dan bijaksana, jujur, obyektif, gaul, santun dan kooperatif.

4. Modern, Informatif dan Komunikatif

Modernisasi merupakan upaya umat manusia untuk meningkatkan taraf dan kualitas hidupnya. Bahwa peningkatan assurance dan kenyamanan serta keterjaminan kehidupan perkembangannya digambarkan oleh bangsa Amerika sebagai an ever expanding pie. Guru sebagai penjual ilmu pengetahuan dan teknologi musti harus mampu menerapkan ajarannya dalam sendi-sendi kehidupan kalau tidak ingin ditinggalkan oleh para siswanya.

Guru harus mampu menyesuaikan diri dengan equilibrium yang berlaku pada masanya. Ketika teknologi digital berkembang pesat di era 80 dan 90-an misalnya, ia harus mampu bergelut dengan berbagai operasi dasar digital yang berkembang setidaknya pada tataran penggunaan umum. Ketika “Era Komunikasi atau jaman informasi” begitulah orang menyebutkan telah tiba, ia pun harus mampu ikut berkiprah pada teknologi yang berlogo e tersebut. Kalau dunia perdagangan sudah mampu memanfaatkan e-commerce, pemerintah dengan e-government, bahkan memasakpun sudah dengan e-cooking maka pendidikanpun harus memasuki tataran e-education.

Teknologi informasi mengandung maksud bahwa saat ini informasi dan komunikasi merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditinggalkan manusia. Urgensi kebutuhan tersebut meningkat drastic seiring dengan pesatnya perkembangan kecanggihan alat-alatnya. Informasi sebagai muatan komunikasi atau sebaliknya komunikasi yang memuat informasi merupakan dua istilah yang sulit dipisahkan keberadaannya. Guru, untuk berperan sebagai agen pembaharu, tentu harus berada pada barisan paling depan untuk memimpin “era shifting” ini.

Guru, baik tanpa maupun dengan teknologi alat bantu, harus meiliki kemampuan berkomunikasi secara lisan dan tulis baik bersifat verbal maupun non verbal serta dalam konteks situasi formal maupun informal.

Ada lima komponen atau unsur penting dalam komunikasi yang harus kita perhatikan yaitu: pengirim pesan (sender), pesan yang dikirimkan (message), bagaimana pesan tersebut dikirimkan (delivery channel atau media), penerima pesan (receiver), dan umpan balik (feedback). Hal ini yang diuraikan dengan menarik oleh Shakespeare dalam syair yang diucapkan Ulysses dalam Troilus and Cressida yang berbunyi, “No man is the lord of anything, Though in and of him there be much consisting, Till he communicate his parts to others.”

Disinilah letak pentingnya kemampuan guru mengembangkan komunikasi yang efektif yang merupakan salah satu keterampilan yang amat diperlukan dalam rangka pengembangan guru baik secara personal maupun profesional. Paling tidak guru harus menguasai empat jenis keterampilan dasar dalam berkomunikasi yaitu: mendengar – berbicara (bahasa lisan) dan membaca –menulis (bahasa tulis). Penguasaan aneka bahasa-pun menjadi demikian penting karena wawasan yang makin luas, mobilitas makin tinggi dan hubungan antar rasa tau suku makin akrab. Guru Indonesia mutlak memerlukan penguasaan Bahasa Indonesia, daerah dan asing sekaligus, ia harus mampu menjalankan performa negosiasi inter dan antar bahasa serta menerima, mengolah, menilai serta mempresentasikan ide-ide dalam bahasa yang berterima antar komunikan. Lebih lanjut, guru harus mampu menggunakan media komunikasi yang makin canggih yang dibarengi serta dilengkapi dengan kehadiran teknologi informasi berbasis digital dan virtual.

Kemampuan guru berkomunikasi efektif yang secara umum akan melahirkan konsep kesalingtergantungan (interdependency) untuk menjelaskan hubungan antar manusia. Unsur yang paling penting dalam komunikasi bukan sekedar pada apa yang kita tulis atau kita katakan, tetapi pada karakter guru dan bagaimana ia menyampaikan pesan kepada penerima pesan. Jika kata-kata ataupun tulisan kita dibangun dari teknik hubungan manusia yang dangkal (etika kepribadian), bukan dari diri kita yang paling dalam (etika karakter), orang lain akan melihat atau membaca sikap kita.

Ada 5 Hukum Komunikasi Yang Efektif (The 5 Inevitable Laws of Efffective Communication) yang meliputi:

a. Respect, komunikasi yang efektif adalah sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan.

b. Empathy, yang berarti kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain.

c. Audible, dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik melalui media atau delivery channel yang tepat.

d. Clarity, kejelasan pesan sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan.

e. Humble, komunikasi yang sukses harus didasari dengan sikap rendah hati.

Keterkaitan dengan amanat UUGD, beberapa karakteristik berkaitan sangat erat, diantaranya adalah dalam komunikasi, guru memperhatikan unsure kearifan dan kebijaksanaan, kewibawaan, terampil dalam komunikasi, faham IT, gaul, santun dan kooperatif.

PART FOUR

MEMBANGUN CITRA GURU YANG DIHARAPKAN OLEH SISWA DAN MENJADIKAN SEKOLAH EFEKTIF

Saat Perang Dunia II, setelah Nagasaki dan Hiroshima di bom oleh sekutu, langkah pertama yang ditempuh pemerintah Jepang , mendata kembali berapa jumlah Guru dan Dokter yang tersisa. Mereka mulai membangun negara yang porak-poranda dari bidang pendidikan dan kesehatan. Hasilnya sangat menakjubkan. Setelah kurang lebih 20 tahun, dengan kerja keras yang tak kenal lelah, Jepang mempu mensejajarkan negaranya dengan negara-negara maju lainnya. Lahirlah kekuatan baru di kawasan Asia saat itu. Untuk bidang pendidikan di kawasan Asia, Jepang juga sebagai negara terbaik, di samping India, Korea selatan dan Singapura.

Kisah nyata itu menyadarkan kita, betapa besar peran Guru dalam membangun suatu bangsa. Ironisnya, di negara kita tercinta, profesi guru, peran guru, kurang diperhitungkan. Malah cenderung dikesampingkan. Pada masa regim orde baru profesi guru malah identik dengan kemiskinan, ketidakberdayaan, kelompok masyarakat yang tahan lapar. profesi guru tidak membanggakan. Guru adalah imput pelarian dari anak miskin yang tidak berkecukupan, potret OEMAR BAKRI si wagu tur kuru yang jauh dari pantas. Dalam masa itu, kelompok Guru tidak lebih dari sekedar alat politik dari regim yang berkuasa. Guru tidak lebih sekedar alat politik dari regim yang berkuasa. Untuk membius kelompok ini, regim berkuasa saat itu, menganugerahkan gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa //PTTJ dalam sebuah lagu.

CITRA Guru yang terbentuk di dalam dirinya sampai saat ini, menurut saya, bukanlah sosok berdasi, intelektual ulung dalam menyiapkan masa depan, tetapi sekedar sebagai pekerja suara yang berangkat subuh pulang malam, tetapi kering finansial. Praktis, citra guru teredusir sedemikian rupa di balik keagungan harapan yang meluap. Permasalahannya: bagaimana kita dapat membangun citra kita sendiri sebagai guru, agar peran dan profesionalitas kita terpenuhi?

Saat ini, apresiasi masyarakat semakin tinggi terhadap Guru, Pemerintah semakin sungguh-sungguh berupaya mensejahterakan Guru, media massa semakin gencar memberitakan tentang kinerja guru. Dari segi kemampuan ekonomis, guru tidak lagi dipandang sekedar sebagai pengamen. Diktator menjual diktat baru bisa beli motor. Atau Pelacur Profesi setelah jam dinas bergilir memenuhi panggilan dari pintu ke pintu, sekedar mencari agar dapur tetap berasap

Gagaimana dengan kita sendiri sebagai pelaku utama pendidikan? yang dalam UU Dosen dan Guru disebut tenaga profesional. Sama dengan dokter, Pengacara dan lain-lain? Banyak pernyataan kritis sering kita dengar, kita lihat, dan kita baca menyangkut eksistensi, kompetensi, dan kinerja kita sebagai tenaga profesional ¡V memang masih memprihatinkan.

Kenyataan rendahnya kompetensi, ethos kerja, dan kinerja guru, seperti dikemukakan oleh Fasli Djalal, Dirjen DIKNAS Peningkatan mutu Pendidik dan tenaga kependidikan menyebutkan hampir separo dari sekitar 2,6 juta guru di Indonesia tidak layak mengajar di sekolah. 75.648 di antaranya guru SMA. Pernyataan itu disampaikan berkenaan dengan wacana guru profesional dan guru kompeten sebagai syarat untuk memperoleh tunjangan profesi guru dan peningkatan kwalitas pendidikan di Indonesia.

Pernyataan yang merujuk pada rendahnya kompetensi dan ethos kerja guru itu juga pernah diungkapkan oleh menteri pendidikan pada masa itu Wardiman Djoyonegoro dalam wawancara ddi TPI tanggal 16 Agustus. Dalam wawancara itu Ia mengemukakan hanya 43 % guru yang memenuhi syarat , artinya sebagian besar guru (57%) tidak atau belum memenuhi syarat, tidak kompeten, dan tidak profesional untuk melaksanakan tugasnya. Pantaslah kalau kwalitas pendidikan kita jauh dari harapan dan kebutuhan.

Kenyataan rendahnya kompetensi guru itu, tidak perlu malu untuk disikapi oleh para sendiri. Perlu dijadikan permenungan. Dari mana harus merubah citra guru? Kuncinya ada para guru sendiri. Bagaimana mereka akan menjadikan dirinya profesional. Itu kembali kepada para guru. Karena dihadapan kita terbentang lautan sumber pengetahuan yang tiada batas. Bagaimana menjadi guru yang lebih profesional, efektif, dan bermutu, kata kuncinya pada ¡§perubahan¡¨. Kita semua membutuhkan perubahan. Termasuk para guru.

Perubahan demi suatu keyakinan, dan demi ketangguhan profesi guru menjadi perkara yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Untuk menjadi lebih baik, tidak mungkin para guru hanya berpuas pada status quonya. Malas menambah wawasan. Dan merasa paling mengetahui banyak hal. Padahal, saat ini guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahhuan bagi para siswa. Tidak sedikit guru yang tanggap akan tuntutan profesionalnya sebagai pendidik. Tetapi juga tidak kurang sedikit guru yang diam di zona nyaman. Malas meningkatkan ketrampilan dan profesionalismenya.

Mungkin ada ada satu hal yang perlu kita refleksikan, mengapa guru takut berubah. Atau malas berubah. Sebab-sebab paling dasar keraguan terhadap dampak dan efek dari entitas perubahan itu sendiri. Perubahan memunculkan ketegangan dan kerumitan. Perubahan mendatangkan stres dan tekanan.

MEMPERBAIKI CITRA GURU

Dalam kurun waktu dasawarsa terakhir, Pemerintah berupaya mendongkrak citra guru yang terlanjur pudar. Tujuan akhir tentu memperbaiki kwalitas pendidikan. Menjadi guru profesional bukan perkara gampang. Apalagi untuk menjadi guru baik. Citra guru yang baik, dapat mengangkat citra dan kwalitas pendidikan. Kwalitas pendidikan yang baik, dapat mengangkat martabat bangsa. Tetapi permasalahannya, dari mana harus dimulai?

1. Dari diri sendiri

Untuk memperbaiki citra guru, mereka harus berani membedah diri. Guru profesional itu, guru yang mengenal dirinya. Dirinya sebagai pribadi yang terpanggil untuk mendidik manusia. Untuk itu, guru dituntut untuk belajar sepanjang hayat (long life education). Medan belajar adalah medan yang menyenangkan. Menjadi guru bukan hanya sebuah proses yang harus dilalui melalui test kompetensi dan sertifikasi. Karena menjadi guru menyangkut perkara hati. Maka mengajar harusnya menjadi profesi hati. Hati harus mendapat perhatian cukup, yaitu pemurnian hati, atau motivasi untuk menjadi guru profesional. Pemurnian hati itu, akan mendorong kita senantiasa meningkatkan kemampuan untuk membelajarkan siswa.

Paling tidak ada 3 kata kunci yang menjadikan guru itu menjadi penting. Tiga kata kunci itu sekaligus menjadi sifat dan karakteristik guru: 1. Kreatif. 2. Profesional. 3. Menyenangkan.

Mengapa guru harus kreatiaf ? Karena harus memilah dan memilih materi pembelajaran. Dan kemudian secara kreatif menyajikan menjadi bahan pembelajaran yang yang penuh makna, dan berkwalitas. Sedang sifat profesional, karena guru harus secara profesional membentuk kompetensinya sesuai dengan karakter peserta didik. Juga bagi dirinya. Berarti belajar dan pembelajaran harus menjadi makanan pokok guru. Tetapi guru juga harus menyenangkan. Baik bagi dirinya sendiri maupun bagi peserta didik. Menjadi guru kreatif, profesional, dan menyenangkan itu akan terwujud, jika si guru mau secara terus-menerus meningkatkan kemampuan dan ketrampilan. Mau belajar.

2. Meningkatkan Pengetahuan dan Ketrampilan.

Guru sebagai profesional (sama dengan profesi dokter, pengacara, sekretaris, dan lain-lain), tanggungjawab utamanya mengawal perkembangan pribadi siswa. Peran pendampingan itu tidak mungkin akan berhasil jika guru tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang

profesioanal. Guru profesional biasanya memiliki hal-hal seperti ini:

"« Penguasaan terhadap pengetahuan dan ketrampilan.

"« Memiliki kemampuan profesional di atas rata-rata.

"« Idealisme dan pengengabdian yang tinggi.

"« Pantas secara moral dan perilaku menjadi panutan.

Pribadi guru yang kreatif, profesional, dan menyenangkan, terus berupaya untuk membangun citra dirinya secara positif. Berkomitmen pada pengabdian pada pendampingan kepada peserta didik. Ia selalu berupaya meningkatkan

kemampuan dan ketrampilan sebagai profesional dan pendidikan. Maka dalam proses pembelajaran di kelas selalu mencari bentuk-bentuk kreatif dan efektif bnagi dirinya dan bagi peserta didik.

Guru kreatif akan mewujudkan pembelajaran yang inovatif. Guru kreatif dan pembelajaran inovatif dapat mewujudkan sekolah efektif, sehingga dapat menyenangkan bagi siswa-siswanya, disamping itu juga guru harus bias memposisikan dirinya sebagi orang tua keuda bagi para siswanya, ia mampu melayani kemauan siswanya dalam pembelajaran sehingga mereka merasa nyaman baik ketika dikelas maupun dilingkungan sekolah itu sendiri.

PART FIVE

ANALISIS TENTANG TEORI KEPRIBADIAN

Tulisan kali ini mengangkat teori Jung tentang Kepribadian, yang secara garis besar dapat dibedakan antara Psyche yang Tampak (Visible Psyche) dan Bawah Sadar (Unconscious). Dalam kesempatan ini, akan dibahas tentang Psyche yang Tampak.

Psyche adalah merupakan gabungan atau jumlah dari keseluruhan isi mental, emosional dan spiritual seseorang. Karena merupakan gabungan dari sejumlah unsure, kita sering mendapati bahwa Psyche kita menunjukkan atau tampak sebagai sesuatu yang kontradiktif atau bertentangan. Untuk memahami bagaimana dan mengapa itu dapat terjadi, kita akan mulai pembahasan dari bagian yang sudah kita kenal atau ketahui, dan juga sebagaimana dikenal oleh dunia (di) luar (diri kita), yaitu : 3. Psyche yang Tampak (Visible Psyche)

PERSONA

“Bagian depan” atau front office dari kepribadian kita dikenal dengan istilah Persona (dari bahasa Latin, yang artinya adalah “topeng”). Persona adalah wajah kepribadian yang ditunjukkan kepada dunia luar, dengan maksud agar dapat diterima dan dihargai secara social. Wujud nyata dari Persona adalah perilaku atau sopan santun yang kita tunjukkan, misalnya dengan berkata “Terima kasih”, “Maaf”, “Silahkan”, dsb. Sekalipun pada waktu mengucapkan kata-kata tersebut kita tidak sepenuhnya mengartikannya demikian.

Orang tidak akan mengenakan topeng yang sama untuk setiap kesempatan atau pada setiap waktu atau tempat. Setiap topeng adalah merupakan respon terhadap situasi atau individu yang spesifik. Misalnya seorang wanita yang bekerja sebagai dokter, dia akan memakai topeng dokter, isteri, ibu, tetangga, teman, dsb. Jumlah atau gabungan dari total topeng yang digunakan oleh seseorang inilah yang disebut dengan Persona. Persona adalah kompromi yang sifatnya unik antara tuntutan lingkungan dan kebutuhan individual seseorang. Oleh karenanya satu orang bisa memiliki banyak variasi atau bentuk topeng yang dikenakannya, misalnya topeng-topeng untuk anggota keluarga yang berlainan (ibu, bapak, mertua, ipar, adik, anak, cucu), topeng-topeng lainnya untuk rekan kerja (atasan, rekan kerja, bawahan, pelanggan, pemasok).

Sekalipun Pesona dapat dilihat nyata secara lahiriah, namun tidaklah mudah untuk mengendalikan atau mengganti topeng-topeng itu secara cepat dan tepat. Kesulitan untuk mengganti topeng-topeng kita secara cepat dan tepat ini akan sangat tergantung dari proporsi peran atau keterlibatan seseorang dalam keluarga, lingkungan kerja dan masyarakat secara umum. Sering kali peran-peran ini sering tidak sejalan atau saling bertentangan hingga dapat menghasilkan ketidaknyamanan (psikis). Seorang remaja pria misalnya, mungkin akan mengenakan topeng anak manis yang taat di hadapan orang tua atau gurunya. Sementara topeng garang atau jutek akan dikenakannya pada waktu berhadapan dengan adik atau teman sekolahnya. Pada waktu dia ada di antara orangtua dan adiknya, atau di antara guru dan teman-teman sekolahnya, sangat mungkin ia akan berperilaku yang sama sekali bukan sebagai anak-manis ataupun jutek. Sangat mungkin ia akan berperilaku sebagai seorang remaja yang pemalu.

Persona bermanfaat untuk adaptasi dengan dunia (luar). Tanpa Persona yang berkembang, orang akan menemui kesulitan social untuk mencapai tujuan tertentu yang mengandaikan impresi atau kesan positif dari orang lain. Misalnya anak muda yang over-protected mungkin tidak akan bisa belajar untuk memulai membangun persahabatan atau network nya sendiri. Atau bisa juga seseorang akan sangat mudah tersinggung terhadap orang lain yang tidak sependapat atau sepaham dengannnya. Sebagai akibatnya, ia akan sangat sering ngambek, mutung yang akan berdampak tidak langgengnya suatu persahabatan.

Dalam beberapa kasus, Persona seseorang bisa menimbulkan konflik dengan harapan orang lain. Misalnya seseorang yang bekerja sebagai tenaga penjual, salesman atau customer service dimana topeng-topeng keramahan, outgoing, kesabaran sangat diharapkan oleh orang lain yang dihadapinya. Apabila orang merasa sangat terpaksa mengenakan topeng-topeng ini, dia mungkin bisa mengenakannya hanya sesaat, atau bila dikenakan ia akan tampak tidak wajar atau aneh. Apabila ini terus berlanjut bisa jadi orang akan jadi depresi atau sebaliknya bisa kehilangan pekerjaannya.

Persona seperti yang diinginkan (oleh dunia luar) kadang juga dapat dibentuk secara sengaja dan dapat berhasil atau berfungsi dengan baik. Kutipan syair lagu “Dunia ini Panggung Sandiwara” adalah contoh paling tepat untuk menggambarkan dan menjelaskan ini.

Persona adalah juga bersifat mandiri dan karenanya ia dapat juga konflik dengan harapan atau kesadaran seseorang. Contoh nyata adalah para public figure “ apakah itu para selebritis, artis, politikus, presenter, pelawak, dsb. Karena begitu sering dan mudahnya orang untuk mengenakan topeng sebagaimana dikehendaki atau yang dapat diterima oleh publik atau masyarakat luas, ia tidak jarang dapat kehilangan kontak dengan perasaan atau kepribadian diri yang sebenarnya. Pada titik ekstrimnya, jika orang merasa tidak mungkin untuk bisa mengungkapkan dirinya yang sebenarnya akan sangat rentan terhadap hal-hal yang drastic, misalnya lari ke penggunaan narkoba atau bahkan sampai bisa bunuh diri.

EGO

Ego atau “saya” dalam bahasa Latin adalah merupakan pusat dari kesadaran inisiator, pengarah dan pengamat terhadap pengalaman-pengalaman (kesadaran) seseorang. Sedangkan pusat dari keseluruhan kepribadian (baik Kesadaran maupun Bawah Sadar) disebut dengan Self. Sebagai pusat dari Kesadaran, Ego yang berfungsi dengan baik akan menerima realitas secara akurat dan akan mampu memilah-milahkan dunia luar dari inner images. Ego semacam ini akan mampu mengarahkan pikiran dan tindakan seseorang. Ego akan juga mampu menggambarkan apa yang sedang terjadi dalam kehidupan seseorang : “Saya piker”, “Saya rasa”, “Saya memahami”, dst.

Ego sejati adalah bukan Ego yang “besar” atau arogan, bahkan sangat mungkin merupakan Ego yang kurang berkembang dengan baik atau Ego yang rapuh. Ego semacam ini sering tidak akan mampu untuk menghadapi dengan tantangan-tantangan secara konstruktif. Ia akan menjadi defensif dan bahkan mengabaikan adanya atau kehadiran orang lain. Sebaliknya, Ego yang sehat akan bisa memiliki toleransi terhadap kritik, halus dan berfungsi dengan baik.

Pembentukan Ego “ menurut Jung, dimulai dengan “benturan” antara kebutuhan fisik seseorang dengan lingkungannya. Agar dapat bertahan hidup, seorang bayi akan harus bisa menunjukkan kebutuhannya kepada dunia luar: cinta, makanan dan minuman, perlindungan. Melalui proses atau cara ini embrio Ego kemudian akan bisa memilah-milahkan antara dirinya dengan lingkungan (di luar dirinya), dan juga dengan orang-orang yang ada dan terlibat di dalamnya.

Pada waktu dilahirkan, seorang bayi akan dibungkus oleh Bawah Sadar Kolektif (Collective Unconscious). Sebelum kita bisa menemukan bahwa sebagian dari Psyche adalah tersembunyi (Bawah Sadar), kita akan cenderung berfikir bahwa Ego adalah segalanya. Perkembangan Ego termasuk juga bagaimana anak (bisa) menjadi atau mengenali antara dirinya dengan dunia Bawah Sadarnya.

Sebagai pusat dari Kesadaran, Ego menjamin atau menyediakan kesinambungan (continuity) bagi Kepribadian. Hal ini tampak pada waktu kita berkata “Pada waktu saya berumur 4 tahun” dan kita juga dapat mengetahui bahwa “anak umur 4” adalah sama dengan orang yang saat ini berkata “Saya”. Ini adalah wujud nyata dari berfungsinya Ego. Ego akan membawa kenangan yang akan dapat menghubungan seseorang dengan masa lalu (nya) dan juga dengan kompleksitas pengalaman-pengalamannya saat ini.

TIPOLOGI

Setiap orang adalah unik karena dipenuhi oleh pengalaman-pengalaman histories yang begitu banyak dan beragam. Tanggapan kita terhadap pengalaman-pengalaman ini adalah hasil dari temperamen yang belum tampak (inborn temperament) dan bahan dasar yang sifatnya majemuk dari tanggapan-tanggapan yang kita tunjukkan sebelumnya.

Apakah itu Temperamen ? Bayi yang baru lahir ada yang sangat aktif, ada juga yang kalem. Ada juga yang sangat sensitive terhadap cahaya, suara, sentuhan, sementara bayi lain tampak begitu “cuek” dengan lingkungan sekitarnya. Sampai dengan akhir Masa Kanak-kanak atau Masa Remaja awal, penampakan Temperamen akan sudah dapat digambarkan , demikian menurut Jung.

Setiap orang “berdasarkan teori Kepribadian Jung, memiliki Ego, Persona dan kompoknen lain dari Psyche, masing-masing dengan karakter kepribadian individual. Sekalipun demikian, ada kesamaan di antara individu yang berbeda tersebut yang dapat ditarik benang merahnya untuk membentuk suatu dimensi. Setiap orang memiliki potensi atas semuanya itu, tetapi dengan derajat atau tingkat yang berbeda-beda. Satu atau dua unsure bisa jadi merupakan cara yang dominan atau menonjol bagi seseorang dalam memandang atau menghadapi dunia (luar) nya.

Jung mulai mengembangkan teori tentang Type - yang kemudian dikenal dengan Tipologi Jung, dari pengamatan terhadap hubungan Sigmund Freud dengan para pengikutnya, termasuk di antaranya Alfred Adler. Adler dan Freud tidak sependapat tentang asal-muasal Neurosis. Bagi Freud, asal atau sebab Neurosis adalah konflik seksual, bagi Adler adalah konflik social khususnya keinginan terhadap kekuasaan. Perbedaan ini sebagaimana diamati oleh Jung, adalah merupakan perbedaan cara pandang dalam mengalami dunia luar. Sebagian orang akan memiliki kecenderungan “ke dalam” (inwardly-oriented), sebagian lagi outwardly. Jung menamai unsur ini sebagai “Introversion dan Extraversion”. Menurut Leona Tyler “ seorang professor psikologi dan pengarang buku “The Psychology of Human Differences” (1965) Jung adalah orang pertama yang menggunakan istilah “Extraversion” dan “Introversion” untuk menggambarkan kepribadian atau tipe-tipe psikologis, sekalipun perbedaan di antara keduanya sudah ada selama berabad-abad.

Melalui penjelajahan literature sejarah, Jung menemukan hal yang sama misalnya perbedaan ideologis antara Carl Spittler dan Johann Wolfgang Goethe, antara Apollo dan Dionysius. Jung melihat Freud sebagai seorang yang Extraversi sedangkan Adler sebagai Introversi. Perbedaan-perbedaan inilah sangat mungkin yang merupakan factor penyebab “perpisahan” di antara Freud dan Jung (yang juga seorang Introversi).

Introversion menaruh perhatian terhadap faktor-faktor subyektif (subjective factors) dan tanggapan internal (inner response). Orang dengan tipe ini akan menikmati kesendiriannya dan akan mencurahkan perhatiannya terhadap hal-hal yang sifatnya subyektif. Dan oleh karenanya ia akan tampak lebih bisa mandiri dalam melakukan penilaian (judgement). Seorang introvert secara relatif akan memiliki teman yang lebih sedikit namun ia akan sangat setia, loyal terhadap mereka. Ia akan tampak sebagai pemalu dalam situasi social, dan mungkin juga sangat hati-hati, pesimistis dan kritis.

Sebaliknya, seorang Extravert akan menaruh perhatian lebih pada dunia di luar dirinya - orang, kejadian dan benda atau barang lain, dan akan dapat dengan mudah menjalin hubungan dengan mereka. Orang tipe ini akan memiliki kecenderungan untuk superficial, siap untuk menerima dan mengadopsi conventional standard, tergantung dalam usaha untuk memberikan kesan yang baik.

Tipe kepribadian ini akan berpengaruh terhadap perasaan, pikiran dan perilaku seseorang, dan ia akan berada di bawah kendali Ego. Tipe yang tidak dominan dimana ia tidak berada di bawah kendali Ego, akan tetap berada di alam Bawah Sadar. Misalnya seorang introvert yang mencoba untuk mengungkapkan minat atau kesenangannya, sangat mungkin akan bercerita tentang sesuatu yang sangat unik dan spesifik yang tidak dikenal atau diketahui oleh orang kebanyakan (misalnya tentang bunga anggrek spesies tertentu yang hanya ada di Himalaya, atau tentang motif batik yang begitu njlimet)

Sekalipun Jung memakai istilah Tipologi atau Type, dia tidak bermaksud untuk mengkotak-kotakkan orang sebagaimana banyak kritik menyebutkan tentang teori kepribadian Jung ini. Jung menempatkan tipologi ini sebagai Dimensi (dimension) : setiap orang memilikinya, bagi sebagian orang ia lebih banyak berada di Kesadarannya, sementara bagi sebagian orang lain lebih banyak berada di Bawah Sadarnya. Tendensi psikologis ini merupakan alat Bantu untuk memahami dan menghargai orang lain atau cara-cara mereka berhadapan dan menghadapi dunia (di luar diri) nya.

Banyak orang yang tidak begitu akrab dengan teori psikologi mengenal Jung melalui Tipologi, misalnya melalui Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) “ yang biasanya banyak digunakan sebagai alat Bantu (psikologis) dalam perkawinan atau industri (seleksi). Melalui MBTI orang akan bisa mengatakan bahwa saya adalah tipe INFP, ESTJ atau satu di antara 14 kombinasi tipe-tipe ini”. Alat ukur lain yang terkenal adalah Gray-Wheelwrights Jungian Type Survey (GWJTS), Singer-Loomis Inventory of Personality (SLIP) dan Keirsey Temperament Sorter (KTS). Alat-alat ukur tersebut semuanya mendasarkan diri pada teori Jung.

Tulisan berikutnya akan mengupas tentang bagian Bawah Sadar dari teori kepribadian menurut Jung Daftar Bacaan - Sharp, Daryl, Personality types : Jung’s model of typology. Toronto: Inner City Books, 1987 - Meier, C.A., Personality: The individuation process in the light of C.G. Jung’s typology. Einsiedeln, Switzerland: Daimon Verlag, 1995 - Edinger, Edward F. Ego and Archetype, New York: Putnam, 1972.

PSYCHE YANG TERSEMBUNYI (the Hidden Psyhce) BAWAH SADAR

Bawah Sadar dari Psyche dibentuk atau berisikan banyak hal dan beragam antara orang yang satu dengan yang lainnya, dan dari waktu ke waktu. Isi yang “tersembunyi” ini sebagian bersifat individual, sebagian lagi kolektif. Isi dari alam Bawah Sadar adalah sangat jauh lebih banyak dan beragam jika dibandingkan dengan isi Kesadaran. Kebanyakan orang (awam) menyebut isi dari alam Bawah Sadar manusia ini dengan sebutan “Bawah Sadar”, sedangkan istilah “Psyche Bawah Sadar” yang sebenarnya lebih tepat, hanya sedikit dipahami dan dipergunakan di kalangan para professional (psikoanalis).

Sebagai konsep yang sangat khusus, gagasan tentang proses mental dan juga aspek aspeknya, berawal pada tahun 1700 an, kemudian menjadi topik atau bahan pembicaraan (wacana) pada sekitar 1800 an, dan menjadi teori pada tahun 1900 an. Penemuan sebelum tahun 1730 kebanyakan dilakukan oleh para filsuf atau sastrawan, yang kemudian diikuti oleh para dokter, ahli nujum dan para teolog. Dari 1730 sampai 1800, para filsuf dan sastrawan adalah dua profesi yang terus menerus melontarkan hipotesis tentang Bawah Sadar.

Setelah “perpisahannya” dengan Freud, Jung memiliki lebih banyak kebebasan untuk memperdalam dan mengembangkan teori-teorinya khususnya tentang isi dari pikiran dan alam bawah sadar. Antara tahun 1913 “ 1919 Jung menjalani apa yang disebut dengan “ketidak pastian internal” (internal uncertainty) atau disorientasi, yang oleh Henri F Ellenberger disebutnya sebagai Creative Illness. Pada masa ini Jung meluangkan banyak waktunya untuk bekerja, meneliti dan memperdalam pemahamannya tentang Mimpi dan Fantasi. Sebagai hasilnya banyak dari teori-teori Jung yang lahir di antara tahun tersebut. Mulai 1919 – 1944, pada saat pekerjaan Jung banyak terganggu karena penyakit yang dideritanya, Jung kemudian menuangkan teori-teorinya itu ke dalam kumpulan tulisan yang diberi judul Collected Works

Jung membedakan istilah antara Ambang Sadar (Subconscious) dan Bawah Sadar (Unconscious) karena menurutnya di alam Bawah Sadar terdapat banyak kebijaksanaan-kebijaksanaan yang sangat bermutu. Jung menggunakan istilah Ambang Sadar untuk merujuk pada isi alam Bawah Sadar yang sifatnya sementara, Freud menyebut hal ini dengan Preconscious. Jika Freud beranggapan bahwa isi dari Bawah Sadar semuanya adalah bersifat pengalalam-pengalaman individual, Jung mengemukakan bahwa sebagian dari isi Bawah Sadar adalah bersifat kolektif “ merupakan bagian dari warisan atau peradaban manusia.

Dimulai dengan disertasi doktornya, Jung meneliti banyak aspek dalam diri dan kehidupan manusia. Penelitiannya ini merupakan refeleksi dari pandangannya bahwa semua gejala atau fenomena (ke)manusia(an) adalah hasil dari Psyche dan oleh karenanya menjadi tanggungjawab psikologi untuk mencari, menemukan dan menjelaskannya.

BAYANGAN (SHADOW)

Bayangan merupakan isi psikis yang tidak ingin ditampilkan atau bahkan dihargai oleh seseorang atau individu. Bayangan merupakan bagian dari hidup seseorang namun ia tidak diinginkan untuk muncul karena dianggap lemah, tidak dapat diterima secara social atau bahkan cenderung aneh. Manifestasi dari Bayangan kerap kali bisa jadi merupakan hal yang tidak mengenakkan. Misalnya seorang pembawa acara yang tiba-tiba bisa lupa akan nama dari tamu terhormat yang harus diperkenalkannya. Hal ini mungkin karena si pembawa acara sebenarnya tidak senang atau benci dengan tamu terhormat tersebut. Contoh lain yang sering kita alami adalah : di tengah tengah percakapan yang biasa dan bersahabat, orang bisa saja melontarkan komentar atau kata-kata kasar.

Bayangan akan muncul atau diekspresikan biasanya pada waktu orang berada dalam taraf kecemasan, di bawah pengaruh alcohol atau obat-obatan, atau dimana Kesadarannya tidak penuh atau menurun. Menurut Jung, dalam mimpi Bayangan sangat sering muncul sebagai figure yang tidak disukai oleh orang itu dan biasanya berjenis kelamin sama.

Sekalipun Bayangan yang secara natural bersifat tersembunyi, orang dapat juga mengangkatnya ke dalam alam Kesadaran dan menjadi bagian daripada nya. Pada dasarnya manusia akan selalu menekan Bayangan sampai ke tingkat dimana orang tidak menyadari (perilaku) nya dan oleh karenanya tidak akan dapat mengendalikannya. Dalam keadaan yang demikian, Bayangan bersifat mandiri (autonomous) dan bisa mewujud dalam bentuk moods, tersinggung, symptom fisik lainnya, emosi, dan juga perilaku. Contoh klasik dari sifat Bayangan yang mandiri ini adalah dalam diri Otto von Bismarck “ pemimpin yang berhasil menyatukan Jerman di abad XIX. Dari luar Bismarck adalah figure militer (jendral) yang kuat, tegar, dan tegas. Namun ini semua (secara tidak disadari) dilakukannya untuk mengatasi kecemasan histeriknya. Kecemasan histerik itu merupakan manifestasi dari Bayangan dari Bismarck yaitu lemah dan pasif.

Sebagaimana Ego dan Persona, isi dari Bayangan adalah bervariasi antara orang satu dengan yang lainnya (bersifat individual). Dalam diri setiap orang, ada kualitas Bayangan yang tidak atau belum berkembang, tidak menarik, aneh atau bahkan kasar. Jika kualitas Bayangan yang sama itu muncul dalam bentuk yang sudah lebih berkembang, dewasa, menarik, sopan dalam diri orang lain, orang akan menjadi irihati tanpa tahu apa sebabnya. Jadi, tergantung dari kualitasnya: bagi satu orang bisa jadi merupakan Bayangan sedangkan hal yang sama bagi orang lain bisa merupakan Ego nya.

Sekalipun orang lebih sering melihat Bayangan dari sisi negatif, namun sebenarnya ia bisa banyak bermanfaat (positif). Kualitas atau isi Bayangan yang destruktif, aneh (pada saat berada di Bawah Sadar) bisa jadi merupakan hal yang sangat bernilai jika ia dapat diangkat ke dalam Kesadaran. Misalnya Bayangan tentang Marah bisa berubah menjadi Asertif, Ketidakberdayaan (vulnerable) bisa menjadi Empati. Jung menegaskan berulang kali bahwa Bayangan adalah merupakan unsure penting dalam hidup manusia. Bayangan dapat menunjukkan kualitas yang baik seperti misalnya instink normal, reaksi-reaksi (psikologis) yang tepat, realistic insight dan impuls-impuls kreatif.

Manifestasi Bayangan berakar pada satu dari dua pengalaman besar seseorang (1) melihat dirinya sendiri sebagai yang jelek atau tidak sempurna. Ini disebabkan mungkin karena terlalu sering atau berulang kali dicemooh oleh orang lain bahwa dirinya tidak berguna, hingga kemudian ia tidak dapat melihat apa yang baik dalam dirinya, atau (2) bangga atau merasa diharagai karena karakter negatif yang dimilikinya, misalnya orang yang suka atau haus akan kekuasaan.

Menurut Jung, disamping isi yang sifatnya individual Bayangan juga berisikan hal-hal yang sifatnya kolektif. Kisah atau sejarah Nazi Jeman adalah contohnya. Jung sempat bingung mengapa bangsa Jerman yang beradab dan religius dapat mendukung Naziisme. Jung kemudian menyimpulkan bahwa setiap orang memiliki kaitan atau hubungan antara Bawah Sadar Kolektif (Collective Unconscious) dengan Bayangan Kolektif (Collective Shadow) nya. Dalam konteks bangsa Jerman, hal ini dipersonifikasikan melalui figure Wotan “ dewa badai dan amarah. Kriminalitas atau garakan kejahatan massal “ sebagaimana yang dilakukan oleh Nazi, menggambarkan isi Bawah Sadar Kolektif yang ada dan dimiliki oleh setiap orang Jerman.

SELF

Self tidak mudah untuk dijelaskan atau digambarkan. Kata yang singkat yang dapat menjelaskan Self adalah Kepribadian Total (total personality) baik Kesadaran maupun Bawah Sadar. Self adalah pusat dari kepribadian. Bandingkan saja Self dengan matahari dalam tata surya kita sumber dari segala energi bagi keseluruhan system. Jika Ego adalah bumi, maka Self adalah matahari.

Sebagai totalitas Psyche, Self merupakan gabungan atau jumlah dari seluruh proses, isi dan karakteristik mental baik itu positif maupun negatif, konstruktif maupun destruktif. Isi dari Self ini yang kemudian akan menjadi bagian dari pola pengembangan (kepribadian) seseorang. Sebagaimana Kesadaran akan berhadapan dengan masalah-masalah dan tantangan hidup, Self akan menjadikan Bawah Sadar untuk bisa mendukung atau menyediakan sumberdaya bagi Kesadaran untuk memenuhi tuntutan-tuntutan hidup.

BAWAH SADAR KOLEKTIF (Collective Unconscious)

Sekalipun gagasan tentang Bawah Sadar Kolektif merupakan pusat dan nafas dari karya Jung, namun sebenarnya ini bukan berasal dari Jung sendiri. Adalah merupakan rentetan karya dari rentang waktu yang cukup banyak oleh para filsuf, sastrawan, teolog dan psikolog. Bahkan Freud yang secara eksplisit menyangkal adanya Bawah Sadar Kolektif yang dikemukakan oleh Jung, sebenarnya juga menerimanya secara implicit. Freud menulis tentang Archaic Remmants “ mitos yang diperankan kembali oleh setiap individu, misalnya mitos Oedipus (kebencian anak pria terhadap ayahnya untuk mendapatkan cinta ibunya) yang kemudian menjadi Oedipus Complex.

Jung memberikan sumbangan besar dengan mendefinisikan Bawah Sadar Kolektif berikut isinya yang kemudian dikenal sebagai Archetype. Konsep tentang Archetype dan Bawah Sadar Kolektif adalah saling berkaitan dan membentuk satu teori. Jung mengembangkan teori ini secara empiris karena ia ngotot bahwa dari pengalaman-pengalaman pribadinya ia menyimpulkan bahwa Bawah Sadar Kolektif itu ada. Ini dijelaskannya melalui Mimpi nya ketika ia dalam perjalanan bersama Freud ke Massachusetts, Amerika Serikat tahun 1909

Saya ada dalam sebuah rumah. Saya tidak tahu itu rumah siapa, tapi yang pasti ada dua lantai. Saya berada di tingkat atas, dimana ada ruang tamu dengan gaya Barok. Di dindingnya tergantung sejumlah lukisan tua yang mahal. Saya pikir ini pasti rumah saya dan “Lumayan” juga kelihatannya. Kemudian saya turun ke lantai bawah. Di sini semuanya tampak lebih tua, dan saya menyadari bahwa bagian dari rumah ini pastilah dari abad XV atau XVI. Perabotannya sangat bergaya abad pertengahan (medieval), lantainya dari batu bata merah. Suasananya tampak temaram, cenderung gelap. Saya masuk ke setiap ruang dan berfikir “Tampaknya sekarang saya harus meneliti seluruh rumah ini”. Saya jumpai pintu kamar yang berat dan kemudian saya masuk ke dalam. Di sana, ada tangga batu yang mengantarkan saya ke ruang bawah tanah. Saya kemudian turun ke sana dan saya jumpai ruang yang berantakan dengan gaya yang sangat kuno.

Dindingnya terbuat dari batu dan ada sederetan yang terbuat dari batu bata. Ini pasti dari jaman kerajaan Romawi. Kemudian saya lihat ke lantainya, ia terbuat dari potongan-potongan batu dan di dalam salah satu potongan itu saya temukan sebuah cincin. Ketika saya menariknya, potongan batu itu kemudian terbuka. Dan lagi saya lihat ada tangga batu yang sempit menuju ke bagian yang lebih bawah dari rumah ini. Lalu saya menuruninya dan menjumpai sebuah gua kecil. Debu tebal terdapat di lantainya, dan di antara tebaran debu itu ada tulang belulang dan pecahan keramik seperti peninggalan orang atau jaman primitif. Saya juga menjumpai dua tengkorak manusia, sudah pasti sangat tua dan hampir tidak berbentuk lagi. Kemudian saya bangun (Memories, Dreams, and Reflections, hal. 158-159)[/color]

Jung kemudian menceriterakan mimpinya kepada Freud dan bersama-sama menganalisisnya. Selama tujuh minggu, setiap hari Freud dan Jung saling menganalisis mimpi-mimpi mereka. Ketika Jung berceritera pada Freud tentang mimpinya yang satu ini, Freud menyarankan Jung untuk mengingat kembali tentang harapan-harapan yang ditekannya sebagaimana digambarkan oleh dua tengkorak manusia itu. Tahu bahwa Freud berasumsi bahwa tengkorak mengindikasikan harapan akan kematian mungkin kematian Freud, Jung kemudian mengatakan bahwa itu mungkin isteri dan adik iparnya. Jung melakukan ini karena disamping “violent resistance” nya terhadap interpretasi (yang dilontarkan oleh Freud), dia juga ragu-ragu terhadap penilaian nya sendiri dan ia sebenarnya ingin dengar langsung dari Freud apa pendapatnya tentang mimpi nya itu.

Pengalaman ini bagaimanapun juga kemudian menyebabkan Jung mulai menyadari ketidaksesuaian antara (gagasan) dirinya dengan Freud. Jung sama sekali tidak bisa mengartikan secara jelas mimpinya itu, tapi ia mengingatnya sebagai sebuah pengalaman yang mengantarkannya kepada adanya unsur kolektif di samping Psyhce yang sifatnya individual. Lima puluh tahun kemudian, Jung mengelaborasikan pengalaman mimpi nya itu

Adalah jelas bagiku sekarang bahwa rumah itu menggambarkan Psyche saya pada tingkat Kesadaran. Kesadaran itu digambarkan sebagai ruang tamu yang memiliki suasana rumah yang berpenghuni, sekalipun disainnya antik.

Lantai bawah menggambarkan tingkat pertama dari Bawah Sadarku. Semakin ke bawah aku pergi, semakin asing dan gelap suasananya. Dalam gua saya jumpai peninggalan dari kultur atau peradaban primitif. Ini adalah dunia primitif yang ada dalam diri saya , dunia yang sangat jarang dapat disentuh atau diterangi oleh Kesadaran.

Mimpi itu menunjukkan bahwa ada hal lain di luar Kesadaran. Sebagaimana saya gambarkan : lantai bawah yang panjang dan tidak berpenghuni baik itu dengan gaya medieval, kerajaan Romawi sampai pada gua pra-sejarah. Ini menggambarkan masa lalu dan juga tahapan-tahapan sebelumnya dari Kesadaran.

Mimpi saya ini membentuk sebuah diagram structural dari Psyche manusia. Ia mengandung (peng) alam (an) impersonal yang mendasari Psyche itu, yang bagi saya merupakan jejak-jejak dari bagaimana (psyche) berfungsi Kemudian, sejalan dengan bertambahnya pengalaman dan berdasarkan pada pengetahuan yang lebih reliable, saya mengenalinya sebagai ‘. Archetype (Memories, Dreams and Reflections hal 160-161)[/color]

Penerawangan Jung tentang Bawah Sadar Kolektif ini memerlukan beberapa tahun sampai kemudian pada 1912 muncul dalam karya Jung yang disebutnya sebagai “primordial image”. Jung kemudian menggunakan istilah ini untuk merujuk juga pada mitologisme, legenda, motif dsb yang menggambarkan mode universal bagi persepsi dan perilaku manusia. Puncak dari teori Jung tentang Bawah Sadar Kolektif muncul pada tahun 1919 pada waktu ia memperkenalkan istilah Archetype.

Tulisan selanjutnya akan membahas lebih lanjut tentang Isi dari Bawah Sadar Kolektif dan sekaligus akan menutup rangkaian tulisan tentang Jung dan Psikologi Analitiknya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar